"Budaya Positif, Sebuah Paradigma Baru Wujudkan Mimpi"
"Budaya Positif, Sebuah Paradigma Baru Wujudkan Mimpi"
Oleh : Susi
Dewi,S.Pd
Calon Guru Penggerak Angkatan 7 Kota Semarang
I. Pendahuluan
Pendidikan Calon Guru Penggerak atau yang dikenal
dengan CGP mengantarkan kita pada sebuah pemahaman baru. bagaimana tidak,
Materi yang disajikan sangat relevan dengan kebutuhan akan pengetahuan tambahan
yang harusnya dimiliki oleh semua guru (pendidik) di Indonesia. Semua materi
disajikan secara lengkap mulai dari bentuk narasi, video sampai pada aplikatif
penerapan di sebuah instansi atau sekolah. Metode belajar yang digunakan sesuai
dengan "Kurikulum Merdeka" dimana kita diberikan ruang seluas-luasnya
untuk mampu berekspresi dan mengeksplore semua kemampuan dan kompetensi yang
kita miliki melalui penyelesaian tugas-tugas yang berbasis masalah.
Seorang guru memiliki peran untuk
membangun atau mewujudkan budaya positif di sekolah. Budaya positif merupakan perwujudan
dari nilai-nilai atau keyakinan universal yang diterapkan di sekolah. Budaya
positif diawali dengan perubahan paradigma tentang teori kontrol. Selama ini
barangkali kita sebagai guru merasa berkewajiban mengontrol perilaku siswa agar
memiliki perilaku sesuai yang guru harapkan. Perwujudannya, guru sering
memberikan hukuman kepada siswa yang melakukan kesalahan dan memberikan imbalan
terhadap perbuatan baik yang dilakukansiswa.
II. Paradigma Baru Budaya Positif
Berdasarkan beberapa penelitian,
tentang teori kontrol, semua perilaku manusia pasti memiliki tujuan. Begitupula
dengan perilaku siswa. Bahkan sebuah kesalahan yang dilakukan siswa pasti
memiliki alasan. Alasan tersebut biasa disebut dengan pemenuhan kebutuhan dasar
manusia.
Ada lima kebutuhan dasar manusia
yaitu:
1) Kebutuhan bertahan hidup
(Survival) yaitu kebutuhan berkaitan dengan fisik seperti makan, tidur, tempat
tinggal dll.
2) Kebutuhan Cinta dan kasih
sayang (Penerimaan).
3) Kebutuhan Penguasaan (pengakuan
akan kemampuan).
4) Kebutuhan Kebebasan (Kebutuhan
akan pilihan).
5) Kebutuhan akan Kesenangan.
Ketika guru sudah mampu memahami
kebutuhan dasar setiap siswa, langkah yang dilakukan adalah dengan menerapkan
disiplin positif. Selama ini, disiplin dipahami sebagai tindakan untuk membuat
siswa patuh pada aturan sekolah dan guru. Apakah seperti itu penerapan disiplin
yang tepat?
Menurut Diane
Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline ada tiga
alasan motivasi manusia dalam melakukan sesuatu, yaitu:
1)Untuk menghindari
ketidaknyamanan atau hukuman
2) Untuk mendapatkan imbalan atau
penghargaan dari orang lain
3) Untuk menjadi orang yang mereka
inginkan sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini. Berdasarkan ketiga alasan
tersebut, tindakan pendisiplinan dengan melakukan hukuman atau memberi imbalan
bisa disebut motivasi eksternal dan hal tersebut tidak akan bertahan lama.
Barangkali dengan hukuman dan imbalan siswa memang menjadi patuh, tapi
kepatuhan itu hanya sementara dan kedisiplinan yang diterapkan tidak mengubah
karakter siswa menjadi lebih kuat. Barangkali itu pula yang menyebabkan bangsa
kita kesulitan dalam membentuk karakter masyarakatnya, contoh kecil seperti
budaya antri, menaati aturan lalulintas, kebersihan (Contoh: buang sampah pada
tempat tepat) yang belum bisa menjadi karakter.
III. Kesimpulan
Dari paparan
diatas, dapat kita simpulkan bahwa disiplin positif itu muncul dari dalam diri
secara sadar untuk dapat menjadi pribadi yang diinginkan. Penegakan
kedisiplinan di sekolah paling tepat menggunakan teknik segitiga restitusi dari
Dianne Gossen. dengan diterapkannya segitiga restitusi, harapannya terciptanya
murid yang terbiasa berpikir kritis, bertanggung jawab dan melakukan semua
nilai-nilai kebajikan universal yang berlaku.
Guru sangat
berperan penting dalam terciptanya Budaya Positif di lingkungan sekolah. posisi
kontrol guru saat mendapati murid yang melakukan pelanggaran hendaknya sebagai
pemantau dan manajer. jika kedisiplinan bersifat positif dapat teerlaksana,
makan lingkungan sekolah akan menjadi nyaman dan aman sehingga tercipta
budaya sekolah yang positif.
Semoga bermanfaat...
Semarang, 05 Februari 2023,
Penulis
Susi Dewi,S.Pd
Komentar
Posting Komentar